20150304

Tuhan Pun Berpuasa

EMHA AINUN NADJIB
Penerbit Kompas
Juli - 2012
Biaya Sewa Rp. 1.000,-/hari

Coba kamu tatap dirimu di cermin. Sejenak saja. Tataplah wajah, badan, pakaian, dan seluruh penampilanmu. Setidaknya, kamu bisa menyadari satu hal saja: bahwa potongan rambutmu, jenis dan warna pakaianmu, juga seluruh benda yang menempel di badanmu –semuanya– adalah sesuatu yang kamu pilih sebagai kesenanganmu. Lalu, jika sempat, pandanganlah ke setiap sisi ruang di rumahmu. Perhatikan perabot-perabot, benda-benda, barang dan hiasan yang memperindah rumahmu. Ingatlah sebentar, di mana dan kapan kamu membeli atau memperolehnya? Lantas, kembalilah pada kesadaran yang tadi, bahwa semua benda yang kamu pilih itu berdasarkan kesenanganmu.

Jika sempat lagi, hitunglah berapa besar peran kesenangan dalam kehidupanmu. Berapa persentase ketidaksenangan? Kemudian, coba renungkan bagaimana sikap batin, pikiran dan jiwamu terhadap kesenangan dan ketidaksenangan itu?

Allah begitu sabar terhadap manusia, cinta dan romantisme-Nya tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Allah pun mempunyai rasa "memiliki" terhadap manusia. Dengan setia Allah tetap menerbitkan matahari tanpa peduli apakah manusia mensyukuri atau tidak.
Allah tetap memancarkan cahaya matahari tanpa memperhitungkan berbagai pengkhianatan manusia terhadap-Nya. Allah "berpuasa" menahan diri dari murka-Nya terhadap manusia.
Puasa adalah "milik khusus" di haribaan-Nya. Sampai-sampai Ia mengorbankan diri-Nya seakan-akan Ia butuh sesuatu dari ibadah manusia, padahal puasa merupakan proses dasar pembebasan dan penyelamatan manusia atas dirinya sendiri.
Cak Nun dengan sangat jernih memandang semua "puasa" dari berbagai sisi yang mampu menjernihkan batin dan mencerahkan pikir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar