Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2012
Tebal: 582 Halaman, 21 cm
Penerbit: Tiga Serangkai
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2012
Tebal: 582 Halaman, 21 cm
Biaya Sewa: Rp. 1.500
Cerita Gajah Mada: Makar Dharmaputra dimulai setelah wafatnya Raja Majapahit yang pertama yaitu Raden Wijaya, Setelah itu Majapahit dipimpin oleh seorang Raja yang sangat lemah yaitu Raja Jayanegara ( dijuluki Kalagemet yang artinya lemah;rapuh ). Raja Jayanegara tidak memiliki karisma seperti Raden Wijaya yang sukses mendirikan Kerajaan Majapahit. Ketidakpuasan akan kinerja Raja Jayanegara yang lemah, membuat banyak orang yang membencinya, salah satunya adalah Ra Kuti dan teman – teman Dharmaputra-nya. Karena hal tersebut, Ra Kuti kemudian membuat strategi untuk mengkudeta Raja Jayanegara yang lemah dari singgasana Raja Mahapit kemudian menjadikan dirinya sendiri menjadi seorang Raja di Kerajaan Majapahit.
Demi memuluskan dirinya menjadi Raja Majapahit, Ra Kuti membentuk aliansi dengan salah satu panglima perang Kerajaan Majapahit yaitu Panglima Pujut Luntar yang dijanjikan sebuah jabatan yaitu menjadi Mahapatih apabila Ra Kuti berhasil melakukan kudeta kepada Raja Jayanegara. Di tempat lain, Mahapatih Kerajaan Majapahit yaitu Mahapatih Tedah merasakan tanda – tanda ada yang tidak beres dengan perasaannya saat itu karena pada saat bersamaan Kerajaan Majapahit tertutup kabut yang luar biasa tebal. Dalam berbagai peristiwa terdapat sebuah mitos kalau peristiwa tertutupnya kabut ini adalah suatu pertanda yang buruk bagi setiap kerajaan karena dahulu Kerajaan Singosari dihancurkan oleh Kerajaan Kediri memiliki keadaan yang sama seperti ini ( berkabut ). Dalam perasaan yang tidak mengenakan ini, Mahapatih Tedah memanggil kepala pelindung keamanan Kerajaan Majapahit ( Pasukan Bhayangkara ) yaitu Gajah Mada untuk menyelidiki dan menghampiri seluruh panglima Majapahit untuk memeriksa apakah ada salah satu diantara mereka yang akan melakukan kudeta kepada Raja Jayanegara.
Untuk melaksanakan perintah tersebut, Gajah Mada kemudian diserahi lencana patih oleh Mahapatih Tedah. Setelah memeriksa semua panglima di Kerajaan Majapahit, Gajah Mada berkesimpulan bahwa Panglima Pujut Luntar-lah dan Ra Kuti yang akan melakukan kudeta. Menyadari hal ini membuat Kerajaan Majapahit bersiaga menghadapi kudeta yang akan segera terjadi ini. Pada pagi hari-nya dibantu salah satu panglima Kerajaan Majapahit yang masih setia dengan Raja Jayanegara yaitu Panglima Banyak Sora, Gajah Mada menghadapi pemberontakan Ra Kuti ini. Perang akan kudeta ini benar – benar menghancurkan Kerajaan Majapahit hingga penduduk desa juga terkena akibatnya seperti perampokan dan pemerkosaan. Namun sayangnya Pasukan Bhayangkara dan tentara Kerajaan Majapahit gagal menghadang kudeta ini dan membuat Kerajaan Majapahit akhirnya jatuh ke tangan Ra Kuti dan para Dharmaputra. Meskipun istana Kerajaan telah dikuasai namun Ra Kuti gagal membunuh Raja Jayanegara karena Raja Jayanegara berhasil dievakuasi oleh pasukan Bhayangkara. Pada saat evakuasi itu,Gajah Mada berjanji untuk merebut kembali kerajaan Majapahit yang berhasil direbut oleh Ra Kuti dan para Dharmaputra dan mengembalikan Raja Jayanegara ke singgasananya.
Demi memuluskan dirinya menjadi Raja Majapahit, Ra Kuti membentuk aliansi dengan salah satu panglima perang Kerajaan Majapahit yaitu Panglima Pujut Luntar yang dijanjikan sebuah jabatan yaitu menjadi Mahapatih apabila Ra Kuti berhasil melakukan kudeta kepada Raja Jayanegara. Di tempat lain, Mahapatih Kerajaan Majapahit yaitu Mahapatih Tedah merasakan tanda – tanda ada yang tidak beres dengan perasaannya saat itu karena pada saat bersamaan Kerajaan Majapahit tertutup kabut yang luar biasa tebal. Dalam berbagai peristiwa terdapat sebuah mitos kalau peristiwa tertutupnya kabut ini adalah suatu pertanda yang buruk bagi setiap kerajaan karena dahulu Kerajaan Singosari dihancurkan oleh Kerajaan Kediri memiliki keadaan yang sama seperti ini ( berkabut ). Dalam perasaan yang tidak mengenakan ini, Mahapatih Tedah memanggil kepala pelindung keamanan Kerajaan Majapahit ( Pasukan Bhayangkara ) yaitu Gajah Mada untuk menyelidiki dan menghampiri seluruh panglima Majapahit untuk memeriksa apakah ada salah satu diantara mereka yang akan melakukan kudeta kepada Raja Jayanegara.
Untuk melaksanakan perintah tersebut, Gajah Mada kemudian diserahi lencana patih oleh Mahapatih Tedah. Setelah memeriksa semua panglima di Kerajaan Majapahit, Gajah Mada berkesimpulan bahwa Panglima Pujut Luntar-lah dan Ra Kuti yang akan melakukan kudeta. Menyadari hal ini membuat Kerajaan Majapahit bersiaga menghadapi kudeta yang akan segera terjadi ini. Pada pagi hari-nya dibantu salah satu panglima Kerajaan Majapahit yang masih setia dengan Raja Jayanegara yaitu Panglima Banyak Sora, Gajah Mada menghadapi pemberontakan Ra Kuti ini. Perang akan kudeta ini benar – benar menghancurkan Kerajaan Majapahit hingga penduduk desa juga terkena akibatnya seperti perampokan dan pemerkosaan. Namun sayangnya Pasukan Bhayangkara dan tentara Kerajaan Majapahit gagal menghadang kudeta ini dan membuat Kerajaan Majapahit akhirnya jatuh ke tangan Ra Kuti dan para Dharmaputra. Meskipun istana Kerajaan telah dikuasai namun Ra Kuti gagal membunuh Raja Jayanegara karena Raja Jayanegara berhasil dievakuasi oleh pasukan Bhayangkara. Pada saat evakuasi itu,Gajah Mada berjanji untuk merebut kembali kerajaan Majapahit yang berhasil direbut oleh Ra Kuti dan para Dharmaputra dan mengembalikan Raja Jayanegara ke singgasananya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar